السبت، 21 فبراير 2026

Ramadhan dan Penyesalan Ahli Kubur

Kesempatan yang kita dapatkan pada malam berbahagia ini dalam keadaan ta’at adalah sebuah kesempatan yang luput bagi orang-orang yang malam ini ada di alam kubur; mengandai-andai dikembalikan ke dunia untuk beramal shalih. Mereka tahu betul manfaat dari setiap detik, menit dari waktu yang sedang berjalan di bulan Ramadhan ini. Allah berfirman:

{حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ ٩٩}

{لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَـٰلِحًۭا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ١٠٠} [سورة المؤمنون الآية 99-100]

“Demikian lah keadaan orang-orang kafir itu, hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhan ku, kembalikan lah aku (ke dunia) agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan’. Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkan nya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan” [QS: Al Mukminun 99-100]

Mereka baru mendapati kenyataan pahit yang mereka alami karena tidak percaya (atau setengah percaya) waktu masih hidup akan sabda Nabi yang mulia:

"لَمّا حضَرَ رَمَضانُ قال رسولُ اللهِ ﷺ: قد جاءَكم رَمَضانُ، شَهْرٌ مُبارَكٌ، افتَرَضَ اللهُ عليكم صِيامَه، تُفْتَحُ فيه أَبْوابُ الجنةِ، وتُغلقُ فيه أبوابُ الجحيمِ، وتُغَلُّ فيه الشَّياطينُ، فيه ليلَةٌ خَيْرٌ مِن أَلْفِ شَهرٍ، مَن حُرِمَ خَيْرَها فقد حُرِم." رواه أحمد والنسائي من طريق أبي هريرة

“Saat Ramadhan telah hadir, Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Ramadhan telah tiba, bulan yang diberkati, Allah mewajibkan atas kita puasa ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, pada nya terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yang terhalang dari kebaikan malam itu maka dia terhalang dari rahmat Allah azza wa jalla” [HR: Ahmad dan An Nasa'i]

Begitu pula dengan sabda Nabi ﷺ yang mulia berbunyi:

"وللهِ عُتَقاءُ من النارِ وذلك كلَّ ليلةٍ" رواه الترمذي وابن ماجه من طريق أبي هريرة

“Bagi Allah orang-orang yang terbebas dari api neraka pada setiap malam” [HR: At Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Nah, bapak ibu kalau kita ga merasakan pahit nya yang dialami ahli kubur malam ini, entah lah, ga tahu lagi kita bagaimana caranya?

Maksudnya, bapak ibu, yang kita bicarakan ini orang-orang di luar sana sekarang ini membuat kita terheran-heran. Sudah jelas seruan itu menuju kebaikan akhirat dia tapi entah mengapa heran kita!? Kita heran dengan itu!

Allah juga sudah heran duluan. Allah pencipta kita dengan segala fasilitas lengkap untuk kita hidup dan Dia maha mengetahui segala sesuatu mengatakan begini:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَٰتًۭا فَأَحْيَـٰكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ٢٨

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًۭا ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَـٰوَٰتٍۢ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ ٢٩

[سورة البقرة الآية 28-29]

Mengherankan! Kalian ini masih saja kafir kepada Allah pencipta kalian dan pencipta bumi tempat tinggal kalian dengan fasilitas lengkap disediakan bagi kalian untuk hidup tapi aku ajak kalian mendapat rahmat ku kalian tidak mau, kalian kufur!

Tapi, kita tidak heran lagi, bapak ibu, sebenarnya itu adalah bentuk hikmah dari penciptaan Allah itu sendiri yang maha adil. Bagi yang membersihkan jiwa nya dia akan beruntung. Bagi yang mengotori nya sampai tertutup seperti itu maka akan merugi.

خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَـٰرِهِمْ غِشَـٰوَةٌۭ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌۭ ٧

[سورة البقرة الآية 7]

Maka, kita banyak-banyak lagi bersyukur dengan berebut masuk pintu-pintu kebaikan pada bulan berkah ini terlebih pada pintu surga ar-Rayyan dan meraih takwa. Semoga Allah mudahkan bagi kita semua. Amin

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجميعين


الجمعة، 20 فبراير 2026

Ramadhan: Bulan Perlombaan

Sebuah kabar gembira bagi kita semua tatkala kita diberikan oleh Allah kesempatan berikutnya, manakala kesempatan tersebut tidak diberikan kepada yang lainnya karena mereka telah terlebih dahulu mendahului kita ke hadirat Allah. Kabar gembira ini membawa kita pada rasa syukur yang mendalam, terutama sekali saat sebagian lain yang masih bersama kita dalam kehidupan namun belum dapat memanfaatkan kesempatan ini dikarenakan belum terpanggil oleh iman. Maka, banyak-banyaklah kita bersyukur sampai pada bulan yang penuh berkah ini, dengan memanfaatkannya semaksimal mungkin dengan penuh ketakwaan, keimanan, dan penuh harap akan ganjaran pahala yang dipersiapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bukanlah bulan ini Allah jadikan untuk mempersulit hamba-Nya sebagaimana keyakinan orang-orang yang belum tersentuh imannya. Sejatinya, ibadah puasa Ramadhan merupakan sebuah anugerah bagi kita untuk membuktikan penghambaan kepada Allah atas ibadah-ibadah fardu lainnya, baik itu shalat, zakat, berbakti kepada orang tua, menyantuni fakir miskin, hingga hidup rukun dengan tetangga. Betapa banyak pintu-pintu kebaikan yang dibukakan oleh Allah selebar-lebarnya di bulan ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

"Apabila datang malam pertama bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pintu pun yang tertutup, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pintu pun yang terbuka, setan-setan dibelenggu. Lalu ada yang berseru: 'Wahai pencari kebaikan, datanglah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!' Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari api neraka, dan itu terjadi setiap malam."

Inilah moment nya. Ini lah momen kita berlomba-lomba merebut masuk ke pintu-pintu kebaikan ini, Allah berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lomba lah kamu dalam kebaikan” (QS. Al-Baqarah: 148)

Ramadhan adalah sebuah event, ajang perlombaan yang Allah sendiri bertindak sebagai penyelenggaranya, sekaligus yang memberikan langsung ganjaran pahalanya. Sebagaimana dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda:

جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرُ بَرَكَةٍ، يَغْشَاكُمُ اللَّهُ فَيُنْزِلُ الرَّحْمَةَ وَيَحُطُّ الْخَطَايَا وَيَسْتَجِيبُ الدُّعَاءَ، يَنْظُرُ اللَّهُ عَلَى تَنَافُسِكُمْ فِيهِ فَيُبَاهِي بِكُمْ مَلَائِكَتَهُ، فَأَرُوا اللَّهَ مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا فَإِنَّ الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيهِ رَحْمَةَ اللَّهِ

"Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah meliputi kalian di dalamnya, maka Dia menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa, dan mengabulkan doa. Allah melihat perlombaan (kebaikan) kalian di dalamnya, maka Dia membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah, karena sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang diharamkan (terhalang) dari rahmat Allah di bulan ini."

Inilah ajang perlombaan sesungguhnya yang Allah tegaskan melalui hadits qudsi:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

"Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya."

Ibadah ini justru mempermudah seorang hamba untuk dijauhkan dari indikator riya’ dan sum’ah, karena tujuan dari shiyam sesungguhnya bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan menjaga dirinya dari seluruh hal yang keji baik perkataan maupun perbuatan. Inilah jihad melawan hawa nafsu. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah melakukannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya."

Inilah ajang perlombaan sesungguhnya. Kita mengejar predikat “A+” di mata Allah dengan menjalankan puasa penuh keimanan, menghidupkan malam-malamnya, serta memburu malam Lailatul Qadar. Jika kita betul-betul serius terhadap janji Allah, maka kita bisa memasuki pintu mana pun dari pintu-pintu surga yang terbuka lebar di hadapan kita. Namun, perlombaan ini butuh keseriusan sebagaimana teladan Nabi kita. Beliau adalah manusia yang paling dermawan, namun kedermawanannya memuncak saat Ramadhan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

"Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi saat bulan Ramadhan."

Bahkan saat memasuki sepuluh malam terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggangnya untuk beribadah:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ

"Nabi ﷺ jika memasuki sepuluh malam terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh) dan menghidupkan malamnya."

Sebagai penutup, perlu kita sadari bahwa syarat diterimanya amal ada dua: ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan). Sebagaimana janji Allah dalam hadits:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Ciri diterimanya amal puasa dan qiyamullail kita adalah adanya ampunan dosa-dosa serta perubahan kualitas ibadah kita. Perjuangkanlah niat kita dalam perlombaan ini. Tanamkan bahwa ibadah ini adalah bentuk syukur atas nikmat Islam dan Iman. Teruslah meneladani Nabi ﷺ dalam menjaga kekhusyukan shalat, bersedekah, dan membayar zakat. Jangan menganggap remeh amalan sunnah bahkan yang mubah sekalipun, karena semua bisa bernilai pahala dengan niat yang benar. Semoga hari ini menjadi awal start yang baik untuk sampai kepada garis finish yang terbaik.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين


الأحد، 15 فبراير 2026

Bukti Telak Kasih Sayang Allah bagi Mereka yang Kafir

Kita sering kali merasa saking gatalnya menginginkan hidayah bagi orang lain. Rasanya ada rasa penasaran yang membuncah hingga memunculkan pertanyaan:

​﴿كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ﴾

(QS. Al-Baqarah: 28)

“Kenapa kalian kafir?”

“Kenapa kalian ingkar?”

“Kenapa kalian tidak mau bertauhid?”

​Pertanyaan ini lahir bukan dari kebencian, melainkan dari keheranan melihat betapa kasih sayang Allah yang Maha Rahman tidak pandang bulu. Oksigen, kesehatan, dan fasilitas bumi tetap diberikan bahkan kepada mereka yang menutup diri.

​Maka, jika kasih sayang-Nya tetap mengalir sedemikian luas, nikmat mana lagi yang kalian dustakan?

الجمعة، 13 فبراير 2026

Bersegera Memetik Hikmah Ramadhan

Orang-orang kebanyakan diantara mereka semakin dekat hari datang Ramadhan semakin sempit hatinya, semakin berkedut keningnya. Mari kita tenangkan sejenak.

Ingatlah bahwa hidup ini sementara. Dari tahun ke tahun apakah kita hanya mau menjadi orang yang sama tanpa ada kemajuan. Kemajuan yang menjadi target kita meliputi kemajuan diri pribadi dan lingkungan:

  • Diri maju menjadi semakin bertaqwa.

  • Lingkungan maju menjadi semakin bersatu.

Kita perlu memantaskan diri untuk itu. Kita tidak dapat mengubah apa yang ada pada diri kita sampai kita mengubahnya sendiri. Inilah kesempatan itu datang: Ramadhan. Kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali bagi sebagian kita. Tapi, jika kesempatan itu kita dapatkan, jangan disia-siakan.

Makna Objektif di Balik "Shalih"

Ada yang menarik dari kosa kata "layak" yang mana dalam bahasa Arab disebut "Shalih". Jika dicocok-logikan —seperti kata mereka— sah-sah saja selama tidak melanggar kode etik syar'i yang sudah berlaku dan ditetapkan atau selama akal logika tetap berfungsi secara terbatas pada taslim (penyerahan diri dan kepatuhan penuh) secara utuh kepada ketentuan dalil aqli (argumentasi yang berlandaskan logika akal yang sehat).

Selama ini shalih kita artikan dengan makna subyektif. Seperti sebutan yang sering kita dengar "orang shalih" berarti orang baik. Namun jarang kita memaknainya secara objektif; seperti memberikan kriteria-kriteria kelayakan agar seseorang dinyatakan shalih sehingga betul-betul seseorang itu layak bukan hanya secara subjektif penilaian kita pribadi secara perspektif, tapi secara universal yang dapat diterapkan di semua aspek lintas waktu dan tempat.

Syariat Tanpa Batas

Kita mesti sadari bahwa nilai-nilai makna yang terkandung dalam syari'at pada dasarnya harus tanpa batas karena agama kita adalah baik seluruhnya dengan panduan yang sudah ditetapkan syari'at itu sendiri untuk memelihara keutuhannya sampai 15 abad lamanya ini. Maka dari itu, kelayakan yang tersirat dari makna-makna yang bernilai termasuk kata "shalih" menjadi perhatian kita tanpa membatasinya di batasan yang perspektif saja tapi juga objektif.

Al-Quran mengajarkan kita metode ini agar menjangkau jalan hidayah yang sudah disediakan bagi mereka yang mengikuti arahan-arahan nyata yang bersifat universal yang dapat dipahami oleh semua kalangan, aspek lintas waktu dan tempat. Kalau kita betul-betul mencermati ayat-ayat tentang surga dan neraka akan kita dapati kriteria-kriteria tertentu yang menunjang kelayakan nilai yang menunjang makna-makna yang mengarahkan kita ke tujuan surga atau neraka.

Aspek Personal dan Global

Dalam aspek personal atau pribadi kita dapati penunjangnya adalah dengan beramal shalih. Dalam aspek global atau lingkungan kita dapati penunjangnya adalah menjalankan konsekuensi syahadatain dengan manhaj salaf (metode beragama yang mengikuti jejak para generasi sahabat dan pendahulu yang mulia).

Dua hal ini sangat-sangat spesifik nilai-nilainya menuju kelayakan yang kita tuju berupa derajat takwa yang ingin kita raih, dan kemajuan yang ingin kita capai pada Ramadhan setiap tahunnya.

Peringatan untuk Bersegera

Jangan sampai terluput lagi kesempatan ini. Jangan tunggu tahun depan lagi untuk beramal shalih. Jangan tunda tahun depan lagi untuk menjadi umat yang bersatu atau kita bisa terancam dengan sabda Nabi yang mulia ﷺ:

((بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا))

"Bersegeralah kalian melakukan amal-amal shalih sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, lalu di sore hari ia menjadi kafir. Di sore hari ia dalam keadaan beriman, lalu di pagi hari ia menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan sedikit harta benda dunia."

(HR. Muslim, no. 118 [Shahih])

Raih kelayakan itu. Jangan jadikan ayat yang bunyinya:

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾

(QS. Ali 'Imran: 110)

...sebatas semboyan yang terperangkap begitu saja di mimbar-mimbar tanpa ada dampak nyata berupa usaha menjalankan nilai-nilai kelayakan akan makna-makna yang terkandung di dalamnya yang banyak sekali diantaranya adalah leadership; kepemimpinan yang merupakan pusat rotasi (poros utama/titik tumpu) dari makna-makna yang lainnya. Diraih dengan kesabaran dan keyakinan:

﴿وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ﴾

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami."

(QS. As-Sajdah: 24)