Begitulah metode yang diajarkan Al Quran dalam upaya menumpas sifat kefasikan dari diri kita; tidak memutus apa yang seharusnya tersambung. Melalui postingan ini kita kembalikan lagi tali yang sempat terputus itu dengan cara yang lumayan elegan.
Ujian dan cobaan merupakan kata kunci untuk merumuskan arti dibalik kehidupan ini. Jika kita lulus maka kita layak mendapatkan ganjaran yang dinantikan. Sebaliknya, kalau gagal kita akan menunggu balasan yang setimpal. Itulah kenyataan yang dicantumkan dalam ayat 26 dari surat Al Baqarah itu. Lantas, modal kita apa untuk menghadapi ujian itu agar tetap waspada dan siaga?
Tidak jauh-jauh dari ayat tersebut. Modal itu adalah ilmu. Ilmu yang tidak biasa. Ilmu yang bisa membedakan antara makna yang satu dan makna yang lain; apa konsekuensi yang ditetapkan dari ketentuan setiap makna-makna itu, terperinci dan terstruktur yang memberi efek pada bertambahnya keimanan secara maksimal, tidak tanggung-tanggung; saya pribadi masih dibilang dengan sebutan ustadz tanggung : ) akibatnya, jika kita tidak memiliki modal ini -sebagaimana ditegaskan dalam ayat 26 tersebut- maka akan terjerumus sedalam-dalamnya ke jurang kesesatan tiada ujung; tidak mampu membedakan makna-makna yang menyelamatkan dirinya; tingkatan-tingkatan prioritas dari makna-makna itu akibatnya tergiring kepada makna-makna yang mencelakakan nya. Karena hakikat nya bukan karena tidak tahu tapi memang ingkar dan enggan untuk menerima dan mengakui kebodohan nya. Bahkan protes:
ماذا أراد الله بهذا مثلا
"apa yang Allah ingin kan dari perumpamaan ini" [QS: Al Baqarah: 26]
Ujian Allah yang tidak dapat dia lewati padahal sudah diberi pilihan untuk memilih mana yang baik atau yang buruk. Dan semua keberagaman itu atas Maha Adil Nya Allah atas kaum fasik, dan atas Maha Luas Nya Rahmat Allah atas kaum beriman.
Allah Maha Perkasa untuk dijadikan target protes makhluk yang lemah.
Allah Maha Tinggi dalam seluruh kemuliaan yang dianggap enteng oleh orang-orang fasik; pengkhianat janji, pemutus hubungan, dan pelaku kerusakan di bumi. Apa kita masih merasa layak untuk mencari dalih dan pelarian dari seruan Allah yang penuh rahmat untuk kita meniti petunjuk-petunjuk Nya? Petunjuk bagi orang-orang yang pantas itu dipaparkan dengan kriteria-kriteria yang penuh dengan berserah diri kepada Allah. Orang yang bersyukur atas kemurahan hati dari Allah. Bersyukur mampu membedakan antara makna-makna karena dengan nya dapat meniti jalan keselamatan. Ujian ini untuk orang-orang agar semakin berterima kasih kepada Allah dimudahkan meniti sebab-sebab untuk mendapatkan kelayakan dalam meraih petunjuk hidayah:
أولئك على هدى من ربهم وأولئك هم المفلحون
"Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" [QS: Al Baqarah: 05]
Mari kita sambung lagi. Tetap waspada akan kerugian yang menimpa orang yang fasik:
أولئك هم الخاسرون
"Mereka itulah orang-orang (kafir) yang merugi" [QS: Al Baqarah: 26]
ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق