الجمعة، 13 فبراير 2026

Bersegera Memetik Hikmah Ramadhan

Orang-orang kebanyakan diantara mereka semakin dekat hari datang Ramadhan semakin sempit hatinya, semakin berkedut keningnya. Mari kita tenangkan sejenak.

Ingatlah bahwa hidup ini sementara. Dari tahun ke tahun apakah kita hanya mau menjadi orang yang sama tanpa ada kemajuan. Kemajuan yang menjadi target kita meliputi kemajuan diri pribadi dan lingkungan:

  • Diri maju menjadi semakin bertaqwa.

  • Lingkungan maju menjadi semakin bersatu.

Kita perlu memantaskan diri untuk itu. Kita tidak dapat mengubah apa yang ada pada diri kita sampai kita mengubahnya sendiri. Inilah kesempatan itu datang: Ramadhan. Kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali bagi sebagian kita. Tapi, jika kesempatan itu kita dapatkan, jangan disia-siakan.

Makna Objektif di Balik "Shalih"

Ada yang menarik dari kosa kata "layak" yang mana dalam bahasa Arab disebut "Shalih". Jika dicocok-logikan —seperti kata mereka— sah-sah saja selama tidak melanggar kode etik syar'i yang sudah berlaku dan ditetapkan atau selama akal logika tetap berfungsi secara terbatas pada taslim (penyerahan diri dan kepatuhan penuh) secara utuh kepada ketentuan dalil aqli (argumentasi yang berlandaskan logika akal yang sehat).

Selama ini shalih kita artikan dengan makna subyektif. Seperti sebutan yang sering kita dengar "orang shalih" berarti orang baik. Namun jarang kita memaknainya secara objektif; seperti memberikan kriteria-kriteria kelayakan agar seseorang dinyatakan shalih sehingga betul-betul seseorang itu layak bukan hanya secara subjektif penilaian kita pribadi secara perspektif, tapi secara universal yang dapat diterapkan di semua aspek lintas waktu dan tempat.

Syariat Tanpa Batas

Kita mesti sadari bahwa nilai-nilai makna yang terkandung dalam syari'at pada dasarnya harus tanpa batas karena agama kita adalah baik seluruhnya dengan panduan yang sudah ditetapkan syari'at itu sendiri untuk memelihara keutuhannya sampai 15 abad lamanya ini. Maka dari itu, kelayakan yang tersirat dari makna-makna yang bernilai termasuk kata "shalih" menjadi perhatian kita tanpa membatasinya di batasan yang perspektif saja tapi juga objektif.

Al-Quran mengajarkan kita metode ini agar menjangkau jalan hidayah yang sudah disediakan bagi mereka yang mengikuti arahan-arahan nyata yang bersifat universal yang dapat dipahami oleh semua kalangan, aspek lintas waktu dan tempat. Kalau kita betul-betul mencermati ayat-ayat tentang surga dan neraka akan kita dapati kriteria-kriteria tertentu yang menunjang kelayakan nilai yang menunjang makna-makna yang mengarahkan kita ke tujuan surga atau neraka.

Aspek Personal dan Global

Dalam aspek personal atau pribadi kita dapati penunjangnya adalah dengan beramal shalih. Dalam aspek global atau lingkungan kita dapati penunjangnya adalah menjalankan konsekuensi syahadatain dengan manhaj salaf (metode beragama yang mengikuti jejak para generasi sahabat dan pendahulu yang mulia).

Dua hal ini sangat-sangat spesifik nilai-nilainya menuju kelayakan yang kita tuju berupa derajat takwa yang ingin kita raih, dan kemajuan yang ingin kita capai pada Ramadhan setiap tahunnya.

Peringatan untuk Bersegera

Jangan sampai terluput lagi kesempatan ini. Jangan tunggu tahun depan lagi untuk beramal shalih. Jangan tunda tahun depan lagi untuk menjadi umat yang bersatu atau kita bisa terancam dengan sabda Nabi yang mulia ﷺ:

((بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا))

"Bersegeralah kalian melakukan amal-amal shalih sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, lalu di sore hari ia menjadi kafir. Di sore hari ia dalam keadaan beriman, lalu di pagi hari ia menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan sedikit harta benda dunia."

(HR. Muslim, no. 118 [Shahih])

Raih kelayakan itu. Jangan jadikan ayat yang bunyinya:

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾

(QS. Ali 'Imran: 110)

...sebatas semboyan yang terperangkap begitu saja di mimbar-mimbar tanpa ada dampak nyata berupa usaha menjalankan nilai-nilai kelayakan akan makna-makna yang terkandung di dalamnya yang banyak sekali diantaranya adalah leadership; kepemimpinan yang merupakan pusat rotasi (poros utama/titik tumpu) dari makna-makna yang lainnya. Diraih dengan kesabaran dan keyakinan:

﴿وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ﴾

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami."

(QS. As-Sajdah: 24)

الخميس، 12 فبراير 2026

Menyambung Yang Sempat Terputus

 Begitulah metode yang diajarkan Al Quran dalam upaya menumpas sifat kefasikan dari diri kita; tidak memutus apa yang seharusnya tersambung. Melalui postingan ini kita kembalikan lagi tali yang sempat terputus itu dengan cara yang lumayan elegan.

Ujian dan cobaan merupakan kata kunci untuk merumuskan arti dibalik kehidupan ini. Jika kita lulus maka kita layak mendapatkan ganjaran yang dinantikan. Sebaliknya, kalau gagal kita akan menunggu balasan yang setimpal. Itulah kenyataan yang dicantumkan dalam ayat 26 dari surat Al Baqarah itu. Lantas, modal kita apa untuk menghadapi ujian itu agar tetap waspada dan siaga?

Tidak jauh-jauh dari ayat tersebut. Modal itu adalah ilmu. Ilmu yang tidak biasa. Ilmu yang bisa membedakan antara makna yang satu dan makna yang lain; apa konsekuensi yang ditetapkan dari ketentuan setiap makna-makna itu, terperinci dan terstruktur yang memberi efek pada bertambahnya keimanan secara maksimal, tidak tanggung-tanggung; saya pribadi masih dibilang dengan sebutan ustadz tanggung : ) akibatnya, jika kita tidak memiliki modal ini -sebagaimana ditegaskan dalam ayat 26 tersebut- maka akan terjerumus sedalam-dalamnya ke jurang kesesatan tiada ujung; tidak mampu membedakan makna-makna yang menyelamatkan dirinya; tingkatan-tingkatan prioritas dari makna-makna itu akibatnya tergiring kepada makna-makna yang mencelakakan nya. Karena hakikat nya bukan karena tidak tahu tapi memang ingkar dan enggan untuk menerima dan mengakui kebodohan nya. Bahkan protes:

ماذا أراد الله بهذا مثلا

"apa yang Allah ingin kan dari perumpamaan ini" [QS: Al Baqarah: 26]

Ujian Allah yang tidak dapat dia lewati padahal sudah diberi pilihan untuk memilih mana yang baik atau yang buruk. Dan semua keberagaman itu atas Maha Adil Nya Allah atas kaum fasik, dan atas Maha Luas Nya Rahmat Allah atas kaum beriman.

Allah Maha Perkasa untuk dijadikan target protes makhluk yang lemah.

Allah Maha Tinggi dalam seluruh kemuliaan yang dianggap enteng oleh orang-orang fasik; pengkhianat janji, pemutus hubungan, dan pelaku kerusakan di bumi. Apa kita masih merasa layak untuk mencari dalih dan pelarian dari seruan Allah yang penuh rahmat untuk kita meniti petunjuk-petunjuk Nya? Petunjuk bagi orang-orang yang pantas itu dipaparkan dengan kriteria-kriteria yang penuh dengan berserah diri kepada Allah. Orang yang bersyukur atas kemurahan hati dari Allah. Bersyukur mampu membedakan antara makna-makna karena dengan nya dapat meniti jalan keselamatan. Ujian ini untuk orang-orang agar semakin berterima kasih kepada Allah dimudahkan meniti sebab-sebab untuk mendapatkan kelayakan dalam meraih petunjuk hidayah:

أولئك على هدى من ربهم وأولئك هم المفلحون

"Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" [QS: Al Baqarah: 05]

Mari kita sambung lagi. Tetap waspada akan kerugian yang menimpa orang yang fasik:

أولئك هم الخاسرون

"Mereka itulah orang-orang (kafir) yang merugi" [QS: Al Baqarah: 26]